Thursday, 28 September 2023

Desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikir kritis dalam bidang sains

Model Pembelajaran Kolaboratif

Pada suatu proses pembelajaran, seseorang harus memiliki pasangan. Ditulis oleh Dewey (dalam bukunya Democracy and Education) pada tahun 1916, bahwa proses pembelajaran hendaknya dapat mengaktifkan siswa, membangun motivasi belajar siswa, memberi kesempatan pada pengetahuan untuk berkembang. Dari ketiga hal tersebut, maka  kegiatan pembelajaran  sebaiknya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, menggunakan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain dan materi pembelajaran lebih dikembangkan kepada konteks (mengkaitkan dengan tujuan praktis). Berdasarkan konsep inilah pembelajaran kolaboratif dikembangkan.


Metode kolaboratif dibangun dengan menggunakan beberapa asumsi tentang cara membangun proses belajar bermakna pada diri siswa (Smith & MacGregor, 1992). Asumsi tersebut antara lain:

a.     Belajar aktif dan konstruktif

Pembelajaran bermakna dapat terjadi jika siswa terlibat aktif. Secara aktif siswa mempelajari bahan pelajaran baik yang berbentuk cetak ataupun yang tersedia dalam jaringan internet. Kemudian siswa mengintegrasikan materi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Pada akhirnya, Siswa membangun makna baru yang terkait dengan materi pelajaran dan perkembangan konteks.

b.    Belajar berkembang sesuai dengan konteks:

Kegiatan pembelajaran sebaiknya dikaitkan dengan konteks yang berkembang dan tentu saja sudah dikenal oleh siswa. Kaitan ini dapat menstimulus motivasi belajar siswa. Stimulus yang terbangun diharapkan dapat siswa tertarik untuk terlibat pada proses pembelajaran secara aktif dan tuntas.

c.    Kompleksitas latar belakang siswa:

Perbedaan latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi siswa pasti terjadi. Siswa dibiasakan untuk menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang terjadi, sehingga belajar secara bergotong royng dapat berlangsung dengan baik. Bahkan, perbedaan keahlian sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu hasil belajar.

d.    Belajar merupakan proses sosial:

Proses belajar merupakan proses interaksi social.pada proses pembelajaran yang dibangun pada pola kolaboratif, siswa dibiasakan untuk membangun makna yang diterima dengan cara bergotong royong atau bersama.

Secara sederhana, metode pembelajaran pada pembelajaran kolaboratif lebih menekankan pada pembermaknaan hasil belajar karena proses sosial yang dibangun oleh siswa dengan bertumpu pada konteks belajar. Pembelajaran bermakna terjadi karena interaksi sosial.

Pada pembelajaran kolaboratif, proses pembentukan makna diterima karena melibatkan proses negosiasi. Negosiasi merupakan proses saling menyesuaikan diri para individu pada  proses berinteraksi sosial. Strategi untuk dapat memahami peristiwa pada setiap insan pasti berbeda. Strategi tersebut sangat bergantung pada pengetahuan dan latar belakang. Sehingga, tiap insan pasti membentuk konteks makna guna menafsirkan objek atau kejadian itu secara berbeda pula. Pada pembelajaran kolaboratif, negosiasi diperlukan supaya hasil belajar dapat diterima bersama.

Proses negosiasi antar siswa dapat terjadi, jika guru memberi bantuan, supaya siswa dapat membentuk hasil belajar bersama. Dan batuan guru biasanya diberikan dalam bentuk penjelasan dan penyajian materi. Akan tetapi bantuan guru diberikan betul-betul bersifat sebagai “jembatan keledai” bagi siswa. akibat dari Tindakan guru ini antara lain adalah terbentuknya hasil belajar bermakna berdasarkan hasil negosiasi tersebut. Dan sekali lagi terbentuk pula suatu konsop bergotong royong antara guru dengan siswa dalam membangun konsep baru bagi siswa dan guru tentu saja. Lingkungan belajar kolaboratif berpusat pada usaha bersama, baik antar siswa maupun antara siswa dan guru, dalam membangun pemahaman, pemecahan masalah, atau makna, atau dalam menciptakan suatu produk.

Model Pembelajaran Kolaboratif
Terdapat banyak model-model Pembelajaran Kolaboratif, antara lain yang disebutkan oleh Suryani (2010), seperti: 1) Learning together, 2) Team Game Tournament, 3) Group Investigation, 4) Academic Constructive Controversy, 5) Jigsaw Prosedure, 6) Student Team Acheivment Division, 7) Complex Instruction, 8) Team Accelerated Instruction, 9) Cooperative Learning Structure, 10) Cooperative Integrated Reading and Composition. Suryani juga mengungkap sejumlah keunggulan dengan penerapan embelajaran kolaboratif, sebagai berikut; 1) prestasi belajar lebih tinggi; 2) pemahaman lebih mendalam; 3) belajar lebih menyenangkan; 4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan; 5) meningkatkan sikap positif; 6) meningkatkan harga diri; 7) belajar secara inklusif; 8) merasa saling memiliki; dan 9) mengembangkan keterampilan masa depan.

Kolaborasi sebagai suatu kompetensi dengan kolaborasi sebagai suatu model pembelajaran tentunya mempunyai perbedaan. Namun demikian, model-model pembelajaran kolaboratif diharapkan dapat menumbuhkan sikap dan kebiasaan kolaborasi sejak dini. Kebutuhan kolaborasi, tentu saja bukan hanya buat siswa, tapi juga untuk guru dan tenaga kependidikan lainnya. Bahkan hampir seluruh profesi saat ini tidak bisa bekerja sendirian, sebagaimana ditulis Purwanto (2015) bahwa pada era informasi, berkembang budaya kerja baru yang berbeda dengan era industri. Jika pada era industri pekerja dituntut memiliki spesialisasi dan sertifikasi, maka di era informasi, pekerja dituntut mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam suatu tim untuk menghasilkan produk atau pelayanan. Demikian juga bagi seorang guru dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis TIK memerlukan kerjasama atau kolaborasi antara pendidik dengan berbagai jenis tenaga kependidikan dan tenaga ahli lainnya.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan terkait perlunya pembelajaran kolaborasi, antara lain;

1.      Kolaborasi saat ini merupakan suatu keniscayaan, sehingga siswa harus dibekali kemampuan kolaborasi sejak dini

2.      Model pembelajaran kolaboratif, diharapkan dapat menumbuhkan potensi dan kebiasaan siswa sejak dini dalam pengembangan kompetensi abad 21

3.      Kolaborasi dapat dilakukan di dalam kelompok kecil satu kelas ataupun lintas sekolah dan bahkan lintas wilayah.
d. TIK memberikan kemungkinan bagi guru dan siswa untuk melakukan kolaborasi lintas batas ruang kelas, batas geografis, dan bahkan batas negara.
e. Karena demikian luasnya dimensi kolaborasi, maka pembelajaran kolaborasi perlu dilakukan secara cermat, tepat guna, dan memberikan nilai tambah yang optimal, sesuai dengan kebutuhan.

4.      Untuk mengakhiri tulisan ini, berikut dikutipkan salah satu point dari sembilan gagasan yang diajukan UNESCO untuk pendidikan pasca covid-19, sebagai berikut:
Hargai profesi guru dan kolaborasi guru. Ada inovasi luar biasa dalam tanggapan para pendidik terhadap krisis COVID-19, dengan sistem yang paling terlibat dengan keluarga dan komunitas menunjukkan ketahanan paling tinggi. Kita harus mendorong kondisi yang memberikan otonomi dan fleksibilitas pendidik garis depan untuk bertindak secara kolaboratif.

 


No comments:

Post a Comment