Model Pembelajaran
Kolaboratif
Pada suatu proses pembelajaran, seseorang harus memiliki pasangan. Ditulis oleh Dewey (dalam bukunya Democracy and Education) pada tahun 1916, bahwa proses pembelajaran hendaknya dapat mengaktifkan siswa, membangun motivasi belajar siswa, memberi kesempatan pada pengetahuan untuk berkembang. Dari ketiga hal tersebut, maka kegiatan pembelajaran sebaiknya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, menggunakan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain dan materi pembelajaran lebih dikembangkan kepada konteks (mengkaitkan dengan tujuan praktis). Berdasarkan konsep inilah pembelajaran kolaboratif dikembangkan.
a. Belajar
aktif dan konstruktif
Pembelajaran bermakna dapat
terjadi jika siswa terlibat aktif. Secara aktif siswa mempelajari bahan
pelajaran baik yang berbentuk cetak ataupun yang tersedia dalam jaringan
internet. Kemudian siswa mengintegrasikan materi baru dengan pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya. Pada akhirnya, Siswa membangun makna baru yang
terkait dengan materi pelajaran dan perkembangan konteks.
b. Belajar
berkembang sesuai dengan konteks:
Kegiatan pembelajaran sebaiknya
dikaitkan dengan konteks yang berkembang dan tentu saja sudah dikenal oleh
siswa. Kaitan ini dapat menstimulus motivasi belajar siswa. Stimulus yang
terbangun diharapkan dapat siswa tertarik untuk terlibat pada proses
pembelajaran secara aktif dan tuntas.
c. Kompleksitas
latar belakang siswa:
Perbedaan latar belakang, gaya
belajar, pengalaman, dan aspirasi siswa pasti terjadi. Siswa dibiasakan untuk
menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang terjadi, sehingga belajar
secara bergotong royng dapat berlangsung dengan baik. Bahkan, perbedaan
keahlian sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu hasil belajar.
d. Belajar merupakan
proses sosial:
Proses belajar merupakan proses
interaksi social.pada proses pembelajaran yang dibangun pada pola kolaboratif,
siswa dibiasakan untuk membangun makna yang diterima dengan cara bergotong
royong atau bersama.
Secara sederhana, metode
pembelajaran pada pembelajaran kolaboratif lebih menekankan pada pembermaknaan
hasil belajar karena proses sosial yang dibangun oleh siswa dengan bertumpu
pada konteks belajar. Pembelajaran bermakna terjadi karena interaksi sosial.
Pada pembelajaran kolaboratif,
proses pembentukan makna diterima karena melibatkan proses negosiasi. Negosiasi
merupakan proses saling menyesuaikan diri para individu pada proses
berinteraksi sosial. Strategi untuk dapat memahami peristiwa pada setiap insan
pasti berbeda. Strategi tersebut sangat bergantung pada pengetahuan dan latar
belakang. Sehingga, tiap insan pasti membentuk konteks makna guna menafsirkan
objek atau kejadian itu secara berbeda pula. Pada pembelajaran kolaboratif,
negosiasi diperlukan supaya hasil belajar dapat diterima bersama.
Proses negosiasi antar siswa
dapat terjadi, jika guru memberi bantuan, supaya siswa dapat membentuk hasil
belajar bersama. Dan batuan guru biasanya diberikan dalam bentuk penjelasan dan
penyajian materi. Akan tetapi bantuan guru diberikan betul-betul bersifat
sebagai “jembatan keledai” bagi siswa. akibat dari Tindakan guru ini antara
lain adalah terbentuknya hasil belajar bermakna berdasarkan hasil negosiasi
tersebut. Dan sekali lagi terbentuk pula suatu konsop bergotong royong antara
guru dengan siswa dalam membangun konsep baru bagi siswa dan guru tentu saja.
Lingkungan belajar kolaboratif berpusat pada usaha bersama, baik antar siswa
maupun antara siswa dan guru, dalam membangun pemahaman, pemecahan masalah,
atau makna, atau dalam menciptakan suatu produk.
Model Pembelajaran Kolaboratif
Terdapat banyak model-model Pembelajaran Kolaboratif, antara lain yang
disebutkan oleh Suryani (2010), seperti: 1) Learning together, 2) Team Game
Tournament, 3) Group Investigation, 4) Academic Constructive Controversy, 5)
Jigsaw Prosedure, 6) Student Team Acheivment Division, 7) Complex Instruction,
8) Team Accelerated Instruction, 9) Cooperative Learning Structure, 10)
Cooperative Integrated Reading and Composition. Suryani juga mengungkap
sejumlah keunggulan dengan penerapan embelajaran kolaboratif, sebagai berikut;
1) prestasi belajar lebih tinggi; 2) pemahaman lebih mendalam; 3) belajar lebih
menyenangkan; 4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan; 5) meningkatkan sikap
positif; 6) meningkatkan harga diri; 7) belajar secara inklusif; 8) merasa
saling memiliki; dan 9) mengembangkan keterampilan masa depan.
Kolaborasi sebagai suatu kompetensi
dengan kolaborasi sebagai suatu model pembelajaran tentunya mempunyai
perbedaan. Namun demikian, model-model pembelajaran kolaboratif diharapkan
dapat menumbuhkan sikap dan kebiasaan kolaborasi sejak dini. Kebutuhan
kolaborasi, tentu saja bukan hanya buat siswa, tapi juga untuk guru dan tenaga
kependidikan lainnya. Bahkan hampir seluruh profesi saat ini tidak bisa bekerja
sendirian, sebagaimana ditulis Purwanto (2015) bahwa pada era informasi,
berkembang budaya kerja baru yang berbeda dengan era industri. Jika pada era
industri pekerja dituntut memiliki spesialisasi dan sertifikasi, maka di era
informasi, pekerja dituntut mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam suatu tim
untuk menghasilkan produk atau pelayanan. Demikian juga bagi seorang guru dalam
mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis TIK memerlukan kerjasama
atau kolaborasi antara pendidik dengan berbagai jenis tenaga kependidikan dan
tenaga ahli lainnya.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan terkait perlunya
pembelajaran kolaborasi, antara lain;
1.
Kolaborasi saat ini merupakan suatu
keniscayaan, sehingga siswa harus dibekali kemampuan kolaborasi sejak dini
2.
Model pembelajaran kolaboratif,
diharapkan dapat menumbuhkan potensi dan kebiasaan siswa sejak dini dalam
pengembangan kompetensi abad 21
3.
Kolaborasi dapat dilakukan di dalam
kelompok kecil satu kelas ataupun lintas sekolah dan bahkan lintas wilayah.
d. TIK memberikan kemungkinan bagi guru dan siswa untuk melakukan kolaborasi
lintas batas ruang kelas, batas geografis, dan bahkan batas negara.
e. Karena demikian luasnya dimensi kolaborasi, maka pembelajaran kolaborasi
perlu dilakukan secara cermat, tepat guna, dan memberikan nilai tambah yang
optimal, sesuai dengan kebutuhan.
4.
Untuk mengakhiri tulisan ini, berikut
dikutipkan salah satu point dari sembilan gagasan yang diajukan UNESCO untuk
pendidikan pasca covid-19, sebagai berikut:
Hargai profesi guru dan kolaborasi guru. Ada inovasi luar biasa dalam
tanggapan para pendidik terhadap krisis COVID-19, dengan sistem yang paling
terlibat dengan keluarga dan komunitas menunjukkan ketahanan paling tinggi.
Kita harus mendorong kondisi yang memberikan otonomi dan fleksibilitas pendidik
garis depan untuk bertindak secara kolaboratif.
.jpg)
No comments:
Post a Comment