Wednesday, 13 December 2023

UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains. Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Perkenalkan saya Sabila Eka Septi, Nim. P2A523019. Dari Magister Pendidikan IPA. Berikut adalah 2 video tugas UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains saya dan kelompok saya yaitu kelompok 3. Video 1 mengenai Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis. Video 2 mengenai Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif. Selamat menyaksikan.

 

VIDEO 1 Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi



VIDEO 2 Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif


  

Soal No 1. Buat video singkat aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui tutor sebaya (siswanya dapat teman satu kelas).

 

Penjelasan:

Pembelajaran Era Disrupsi Inovasi ini melatih siswa untuk memiliki kemampuan 4C (creative thingking, critical thingking, collaboration dan communication). Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan yaitu Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Model pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa dimana siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

 

 

 

Langkah-langkah Model PBL:

 

1.   Kegiatan pembukaan

-          Guru mengucapkan salam

-          Berdo’a sebelum memulai pembelajaran

-          Guru menanyakan kabar siswa

-          Guru mengajak siswa ice breaking dan memotivasi siswa

-          Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaatnya  dalam kehidupan sehari-hari.

2.   Kegiatan Inti

1.      orientasi siswa pada masalah

·         Peserta didik membentuk kelompok.

·         Peserta didik mengamati  video terkait permasalahan pernafasan di lingkungan masyarakat melalui link https://www.youtube.com/watch?v=miE5BKEYMZE  atau  melalui LCD proyektor yang disajikan guru.

·         Setelah mengamati video, guru menstimulus peserta didik dengan memberikan pertanyaan

-          “Apakah frekuensi pernafasan setiap orang itu sama?”

-          “Bagaimanakah perbedaan frekuensi pernafasan orang yang berbadan kurus dengan orang yang memiliki berat badan tinggi”

-          “Mengapa terjadi perbedaan frekuensi pernafasan tersebut?”

·         Peserta didik diarahkan untuk menyebutkan alterlatif solusi sementara terkait permasalahan yang diberikan.

2.      mengorganisasi siswa untuk belajar

·         Guru mengajak peserta didik untuk membuktikan argument mereka dengan melakukan penyelidikan.

·         “Nah, untuk membuktikan kebenaran argument yang telah kalian ajukan, mari  buktikan dengan melakukan penyelidikan.”

·         Peserta didik diberikan sumber literasi belajar  berupa handout/bahan bacaan

·         Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan penyelidikan.

·         Peserta didik melakukan diskusi dalam menemukan solusi terkait permasalahan gangguan pernafasan.

 

3.      membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

·         Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan percobaan dan penyelidikan.

·         Peserta didik melakukan penyelidikan dengan percobaan untuk membuktikan argument sekaligus menganalisis besar frekuensi pernafasan setiap  orang teman .

4.      mengembangkan dan menyajikan hasil

·         Peserta didik secara berkelompok merumuskan kesimpulan tentang besarnya frekuensi pernafasan 5 orang teman yang berbeda.

·         Peserta didik menganalisis penyebab adanya perbedaan besarnya frekuensi bernafas setiap orang.

·         Guru membimbing peserta didik  mengisi table pengamatan.

·         Peserta didik menyajikan hasil penyelidikan pada LKPD.

5.      menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

·         Guru melakukan evaluasi kepada peserta didik 

·         Peserta didik yang mendengarkan diminta menanggapi dan memberi komentar.

3. Kegiatan Penutup

-          Peserta didik dibimbing oleh guru merefleksi seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan menyimpulkan konsep yang telah dikonstruksi oleh peserta didik berkaitan dengan frekuensi mekanisme pernafasan manusia.

-          Guru memberikan refleksi kepada siswa berupa pemberian pertanyaan

-          orientasi siswa pada masalah

 

 Soal No 2. Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif.

 

Penjelasan:

 

1.   Model Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan semua peserta didik melalui kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil tersebut terdiri dari beberapa peserta didik yang kemampuan berbeda. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang ditugaskan dan biasa disebut sebagai pembelajaran gotong royong. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah membentuk peserta didik menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli pada sesama, menciptakan keaktifan serta keterlibatan semua peserta didik dalam pembelajaran, meningkatkan nilai akademik pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan kepekaan sosial peserta didik.

 

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kooperatif antara lain:

-              membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan dan penerapannya

-              guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang dan membutuhkan banyak tenaga

-              membutuhkan fasilitas, alat dan bahan yang memadai

-              kesulitan membentuk kelompok yang solid

-              siswa yang lebih banyak mengobrol daripada fokus mengerjakan tugas,

-              kurang cocok untuk siswa yang kurang aktif. Tidak semua siswa mungkin aktif dalam kelompok, sehingga ada potensi bagi beberapa siswa untuk "tertumpu" pada anggota kelompok yang lebih dominan.

-              kesulitan menilai siswa sebagai individu karena individu berada dalam kelompok

-              memerlukan keterampilan khusus dalam mengelola kelompok agar tujuan pembelajaran tercapai

 

2.   Model Kuantum

Model Quantum Learnig merupakan salah satu model pmbelajaran yang dilakukan dengan lingkungan belajar yang menyenangkan akan mampu menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi. Adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan, menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir serta membantu mempercepat dalam pembelajaran.

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:

-          Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung.

-          Memerlukan fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai

-          Model ini dapat membuat ketidakteraturan di dalam kelas

-          Memerlukan waktu yang lama dalam pelaksanaannya

-          Kurang dapat mengontrol siswa

Pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran yang mempengaruhi peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menuju tujuan bersama.Tujuan model kolaboratif adalah memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu.

Beberapa kelemahan dari penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:

-          Memerlukan pengelolaan waktu yang efektif agar semua siswa dapat berkontribusi secara merata.

-          Diperlukan pemahaman yang kuat tentang dinamika sosial dan kemampuan untuk memfasilitasi kolaborasi antar siswa.

-          Memerlukan infrastruktur dan jaringan teknologi informasi komunikasi yang stabil dan efisien

-          Memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaboratif dapat terganggu

-          Tidak semua aspek pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sehingga perlu perhatian khusus dalam memastikan semua aspek tercakup dengan baik

-          Ada kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain

-          Memakan waktu yang cukup lama

-          Sulitnya mendapat teman yang dapat bekerja sama

-          Ada kemungkinan peserta didik kurang aktif dalam kerja kelompok, terutama ketika topik yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda, sehingga dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami dengan baik

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum meliputi:

 

-          Kesiapan dan Pelatihan Guru: Kesiapan dan pelatihan guru dalam menerapkan model-model pembelajaran tersebut dapat memengaruhi efektivitasnya.

-          Keterbatasan Sumberdaya: Keterbatasan sumberdaya, seperti ruang kelas dan materi pembelajaran, dapat menjadi hambatan dalam penerapan model-model pembelajaran tersebut.

-          Karakteristik Siswa: Perbedaan dalam gaya belajar dan tingkat keterampilan siswa dapat memengaruhi efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.

-          Kesulitan dalam Pengelolaan Kelas: Pengelolaan kelompok belajar dan interaksi antar siswa dalam model-model pembelajaran tersebut dapat menjadi tantangan bagi guru.

-          Kurangnya Dukungan Institusional: Kurangnya dukungan dari pihak sekolah atau institusi pendidikan juga dapat mempengaruhi keberhasilan penerapan model-model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif.


Solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi kelemahan tiga model pembelajaran yaitu Model  Kooperatif, kuantum dan Kolaboratif  yaitu:

-          Monitoring Kelompok adalah Pastikan untuk secara aktif memantau dinamika  kelompok. Jika ada ketidaksetaraan kontribusi, intervensi diperlukan.

-          Pemilihan Materi yang Tepat adalah Pastikan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman semua anggota kelompok, agar tidak ada yang merasa tertinggal.

-          Pengelolaan Waktu adalah Perhatikan pengelolaan waktu dalam sesi kooperatif, kuantum, dan kolaborasi. Pastikan kegiatan tidak terlalu lama atau terlalu singkat sehingga menciptakan ketidaknyamanan.

-          Fasilitasi Aktivitas Kelompok adalah Bantu kelompok dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mereka. Fasilitasi diskusi dan pastikan semua anggota terlibat aktif.

-          Evaluasi Individual Selain penilaian kelompok, pertimbangkan juga penilaian individu untuk memahami kontribusi masing-masing siswa.

-          Pelatihan Keterampilan Sosial adalah  Berikan panduan atau pelatihan keterampilan sosial kepada siswa agar mereka dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan efektif.

-          Variasi Model Pembelajaran adalah Gabungkan model pembelajaran kooperatif dengan model lain untuk memastikan variasi dan memenuhi kebutuhan belajar yang beragam.

-          Refleksi dan Umpan Balik adalah Anjurkan refleksi kelompok secara berkala dan berikan umpan balik konstruktif untuk perbaikan.

-          Keterlibatan Orang Tua adalah Melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaborasi dapat membantu mendukung keberhasilan siswa.

 

Semoga bermanfaat, terimakasih. Wassalamu'alaikum.

Nama Kelompok 3:

1. Elda Meitafia                      (P2A523002)

2. Puji Rizky Widyaningsih    (P2A523007)

3. Laila Fitria                           (P2A523015)

4. Sabila Eka Septi                  (P2A523019)

5. Istiqomah                            (P2A523027)

 

Dosen Pengampu:

Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.


Mata Kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains

Program Studi Magister Pendidikan IPA

Universitas Jambi

2023

 

Thursday, 28 September 2023

Desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikir kritis dalam bidang sains

Model Pembelajaran Kolaboratif

Pada suatu proses pembelajaran, seseorang harus memiliki pasangan. Ditulis oleh Dewey (dalam bukunya Democracy and Education) pada tahun 1916, bahwa proses pembelajaran hendaknya dapat mengaktifkan siswa, membangun motivasi belajar siswa, memberi kesempatan pada pengetahuan untuk berkembang. Dari ketiga hal tersebut, maka  kegiatan pembelajaran  sebaiknya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, menggunakan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain dan materi pembelajaran lebih dikembangkan kepada konteks (mengkaitkan dengan tujuan praktis). Berdasarkan konsep inilah pembelajaran kolaboratif dikembangkan.


Metode kolaboratif dibangun dengan menggunakan beberapa asumsi tentang cara membangun proses belajar bermakna pada diri siswa (Smith & MacGregor, 1992). Asumsi tersebut antara lain:

a.     Belajar aktif dan konstruktif

Pembelajaran bermakna dapat terjadi jika siswa terlibat aktif. Secara aktif siswa mempelajari bahan pelajaran baik yang berbentuk cetak ataupun yang tersedia dalam jaringan internet. Kemudian siswa mengintegrasikan materi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Pada akhirnya, Siswa membangun makna baru yang terkait dengan materi pelajaran dan perkembangan konteks.

b.    Belajar berkembang sesuai dengan konteks:

Kegiatan pembelajaran sebaiknya dikaitkan dengan konteks yang berkembang dan tentu saja sudah dikenal oleh siswa. Kaitan ini dapat menstimulus motivasi belajar siswa. Stimulus yang terbangun diharapkan dapat siswa tertarik untuk terlibat pada proses pembelajaran secara aktif dan tuntas.

c.    Kompleksitas latar belakang siswa:

Perbedaan latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi siswa pasti terjadi. Siswa dibiasakan untuk menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang terjadi, sehingga belajar secara bergotong royng dapat berlangsung dengan baik. Bahkan, perbedaan keahlian sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu hasil belajar.

d.    Belajar merupakan proses sosial:

Proses belajar merupakan proses interaksi social.pada proses pembelajaran yang dibangun pada pola kolaboratif, siswa dibiasakan untuk membangun makna yang diterima dengan cara bergotong royong atau bersama.

Secara sederhana, metode pembelajaran pada pembelajaran kolaboratif lebih menekankan pada pembermaknaan hasil belajar karena proses sosial yang dibangun oleh siswa dengan bertumpu pada konteks belajar. Pembelajaran bermakna terjadi karena interaksi sosial.

Pada pembelajaran kolaboratif, proses pembentukan makna diterima karena melibatkan proses negosiasi. Negosiasi merupakan proses saling menyesuaikan diri para individu pada  proses berinteraksi sosial. Strategi untuk dapat memahami peristiwa pada setiap insan pasti berbeda. Strategi tersebut sangat bergantung pada pengetahuan dan latar belakang. Sehingga, tiap insan pasti membentuk konteks makna guna menafsirkan objek atau kejadian itu secara berbeda pula. Pada pembelajaran kolaboratif, negosiasi diperlukan supaya hasil belajar dapat diterima bersama.

Proses negosiasi antar siswa dapat terjadi, jika guru memberi bantuan, supaya siswa dapat membentuk hasil belajar bersama. Dan batuan guru biasanya diberikan dalam bentuk penjelasan dan penyajian materi. Akan tetapi bantuan guru diberikan betul-betul bersifat sebagai “jembatan keledai” bagi siswa. akibat dari Tindakan guru ini antara lain adalah terbentuknya hasil belajar bermakna berdasarkan hasil negosiasi tersebut. Dan sekali lagi terbentuk pula suatu konsop bergotong royong antara guru dengan siswa dalam membangun konsep baru bagi siswa dan guru tentu saja. Lingkungan belajar kolaboratif berpusat pada usaha bersama, baik antar siswa maupun antara siswa dan guru, dalam membangun pemahaman, pemecahan masalah, atau makna, atau dalam menciptakan suatu produk.

Model Pembelajaran Kolaboratif
Terdapat banyak model-model Pembelajaran Kolaboratif, antara lain yang disebutkan oleh Suryani (2010), seperti: 1) Learning together, 2) Team Game Tournament, 3) Group Investigation, 4) Academic Constructive Controversy, 5) Jigsaw Prosedure, 6) Student Team Acheivment Division, 7) Complex Instruction, 8) Team Accelerated Instruction, 9) Cooperative Learning Structure, 10) Cooperative Integrated Reading and Composition. Suryani juga mengungkap sejumlah keunggulan dengan penerapan embelajaran kolaboratif, sebagai berikut; 1) prestasi belajar lebih tinggi; 2) pemahaman lebih mendalam; 3) belajar lebih menyenangkan; 4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan; 5) meningkatkan sikap positif; 6) meningkatkan harga diri; 7) belajar secara inklusif; 8) merasa saling memiliki; dan 9) mengembangkan keterampilan masa depan.

Kolaborasi sebagai suatu kompetensi dengan kolaborasi sebagai suatu model pembelajaran tentunya mempunyai perbedaan. Namun demikian, model-model pembelajaran kolaboratif diharapkan dapat menumbuhkan sikap dan kebiasaan kolaborasi sejak dini. Kebutuhan kolaborasi, tentu saja bukan hanya buat siswa, tapi juga untuk guru dan tenaga kependidikan lainnya. Bahkan hampir seluruh profesi saat ini tidak bisa bekerja sendirian, sebagaimana ditulis Purwanto (2015) bahwa pada era informasi, berkembang budaya kerja baru yang berbeda dengan era industri. Jika pada era industri pekerja dituntut memiliki spesialisasi dan sertifikasi, maka di era informasi, pekerja dituntut mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam suatu tim untuk menghasilkan produk atau pelayanan. Demikian juga bagi seorang guru dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis TIK memerlukan kerjasama atau kolaborasi antara pendidik dengan berbagai jenis tenaga kependidikan dan tenaga ahli lainnya.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan terkait perlunya pembelajaran kolaborasi, antara lain;

1.      Kolaborasi saat ini merupakan suatu keniscayaan, sehingga siswa harus dibekali kemampuan kolaborasi sejak dini

2.      Model pembelajaran kolaboratif, diharapkan dapat menumbuhkan potensi dan kebiasaan siswa sejak dini dalam pengembangan kompetensi abad 21

3.      Kolaborasi dapat dilakukan di dalam kelompok kecil satu kelas ataupun lintas sekolah dan bahkan lintas wilayah.
d. TIK memberikan kemungkinan bagi guru dan siswa untuk melakukan kolaborasi lintas batas ruang kelas, batas geografis, dan bahkan batas negara.
e. Karena demikian luasnya dimensi kolaborasi, maka pembelajaran kolaborasi perlu dilakukan secara cermat, tepat guna, dan memberikan nilai tambah yang optimal, sesuai dengan kebutuhan.

4.      Untuk mengakhiri tulisan ini, berikut dikutipkan salah satu point dari sembilan gagasan yang diajukan UNESCO untuk pendidikan pasca covid-19, sebagai berikut:
Hargai profesi guru dan kolaborasi guru. Ada inovasi luar biasa dalam tanggapan para pendidik terhadap krisis COVID-19, dengan sistem yang paling terlibat dengan keluarga dan komunitas menunjukkan ketahanan paling tinggi. Kita harus mendorong kondisi yang memberikan otonomi dan fleksibilitas pendidik garis depan untuk bertindak secara kolaboratif.

 


Monday, 25 September 2023

Desain Model Pembelajaran Disrupsi Inovasi Melalui IoT, Augmented Reality dan Bentuk Bentuk Pembelajaran Digital

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Perkenalkan saya Sabila Eka Septi, Nim. P2A523019. Dari Magister Pendidikan IPA. Berikut adalah video penjelasan saya mengenai desain model pembelajaran disrupsi inovasi melalui iot, augmented reality dan bentuk bentuk pembelajaran digital.



Semoga bermanfaat, terimakasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Friday, 22 September 2023

QUANTUM LEARNING

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, perkenalkan saya Sabila Eka Septi dari Pascasarjana, Pendidikan IPA, Universitas Jambi. Di sini saya akan mereview sedikit tentang Quantum Learning.



Apa itu Quantum Learning?

Quantum Learning merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dan Lozanov. Quantum learning mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas quantum learning. Quantum learning juga merupakan salah satu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar siswa, melatih siswa untuk mampu berpikir kritis dan kreatif, serta dapat meningkatkan kualitas diri dari siswa itu sendiri.


Aspek-Aspek Quantum Learning 

Menurut DePoter dan Hernacki (2011), terdapat beberapa aspek yang harus ada di dalam model pembelajaran quantum learning, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. AMBAK (Apa Manfaat Bagi Ku) 

Segala sesuatu yang diinginkan pelajar harus menjanjikan manfaat bagi pelajar tidak akan termotivasi melakukannya. Motivasi ini di sebut sebagai AMBAK. Menemukan AMBAK sama dengan menemukan minat dalam sebuah hal yang dipelajari, dengan menghubungkan ke dalam dunia nyata. Jadi konsep AMBAK dapat diartikan sebagai motivasi yang di dapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan. Sebelum pembelajaran berlangsung siswa diberikan gambaran tentang manfaat dan hasil belajar bagi siswa dalam implementasinya dalam kehidupan sehari-hari maupun keuntungan di masa yang akan datang.

b. Penataan lingkungan belajar 

Cara menata perabotan, cahaya dan bantuan visual di dinding, dan papan iklan, semua merupakan kunci bagi siswa yang menerapkan Quantum Learning untuk menciptakan lingkungan dengan baik, akan menjadi sarana yang dilakukan dengan baik dan bernilai dalam membangun dan mempertahankan sikap positif. Pengaturan lingkungan belajar ini sebagai langkah awal yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara menyeluruh. Setiap individu memiliki kesenangan yang berbeda dalam menentukan lingkungan belajar. Akan tetapi individu yang dapat berinteraksi dengan lingkungan semakin mudah dalam mempelajari informasi-informasi baru, karena dapat memperbanyak memori tentang lingkungan sekitar, sehingga dapat digunakan untuk berinteraksi pada perubahan lingkungan selanjutnya.

c. Musik 

Musik juga dapat dipergunakan untuk membantu di dalam belajar siswa yang suka mendengarkan musik untuk mengombinasikan pendengaran dalam belajar. Para siswa mengungkapkan bahwa stimulus-stimulus dari alunan musik ini membuat puas, walaupun mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkannya. Musik sangat penting dalam Quantum Learning, karena sebenarnya musik berhubungan dan mempengaruhi kondisi psikologis. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan darah dan denyut jantung cenderung meningkat. Gelombang otot meningkat, otot menjadi tegang, selama relaksasi dan meditasi, denyut jantung dan tekanan darah menurun, dan anda benar-benar relaks, dan sulit relaks ketika anda berkonsentrasi.

d. Sikap positif terhadap kegagalan 

Aset berharga dalam proses belajar menurut quantum learning adalah sikap positif. Kalau individu memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya, harga diri yang tinggi. Cara setiap individu dalam memandang masalah adalah sebuah hal penting dalam pembelajaran, biasanya kegagalan akan membuat individu merasa akan merasa bodoh, sedih, dan berhenti dalam upaya pencapaian tujuan. Sebenarnya di balik sebuah kegagalan ada informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan. Untuk menekankan sikap positif pada setiap individu maka dibutuhkan umpan balik dari kita, bahwa setiap hal yang berhasil maka di dalamnya selalu didahului kegagalan kecil.


Prinsip Quantum Learning

Ada lima prinsip yang dikembangkan (Bobby DePorter, 2002) dalam pembelajaran kuantum. Kelima prinsip tersebut adalah:

  1. Segala berbicara, maksudnya semua lingkungan kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga memberikan pesan belajar bagi siswa.
  2. Segala bertujuan, ini mengandung arti bahwa segala yang dilakukan dalam pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas dan terkontrol.
  3. Pengalaman sebelum pemberian nama, maksudnya sebelum siswa menamai sesuatu sebaiknya siswa mengalami terlebih dulu sehingga memiliki pengalaman informasi yang berhubungan dengan pemberian nama tersebut.
  4. Mengakui segala usaha, artinya segala usaha belajar siswa harus memperoleh pengakuan dan penghargaan dai guru dan siswa lain sehingga siswa selalu berani untuk menuju pembelajaran selanjutnya.
  5. Merayakan keberhasilan, artinya, setiap usaha dan hasil yang diperoleh siswa dalam pembelajaran harus dirayakan sehingga siswa termotivasi untuk maju dan meningkatkan hasil belajarnya.


Prinsip Dasar Quantum Learning

Inilah prinsip dasar yang menjadikan sebuah aktivitas pengajaran disebut sebagai Quantum Learning:

  • Mengetahui secara sadar bahwa apapun yang akan disampaikan bisa berpengaruh pada pembelajaran. Mulai dari bahasa tubuh guru hingga kondisi/lingkungan belajar, pengaturan tempat duduk, lembar kerja yang diserahkan kepada murid sampai strategi pembelajaran.
  • Mengetahui dengan sadar bahwa setiap pembelajaran pasti memiliki tujuan.
  • Bersikap secara sadar bahwa pengalaman adalah proses pembelajaran yang mendahului teori. Aktivitas pembelajaran efektif akan terjadi bila siswa sudah mendapatkan informasi terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan hakikat apa yang sudah dipelajari.
  • Mengakui secara sadar bahwa dalam mendapatkan ilmu pasti ada sebuah upaya/kerja keras. Setiap memperoleh ilmu pasti ada sesuatu yang harus dikorbankan. Entah itu waktu, tenaga atau bahkan uang.
  • Sesuatu yang berat untuk didapatkan, harus lebih dihargai. Setiap keberhasilan sedikit apapun harus dihargai dan dirayakan.

Kelebihan dan Kekurangan Quantum Learning

Pernyataan tentang hal ini diambil berdasarkan pada bukunya Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19).

Kelebihan Quantum Learning

  • Dalam implementasinya quantum learning lebih berfokus pada interaksi yang berkualitas dan bermakna.
  • Quantum learning sangat memfokuskan pada akselerasi pembelajaran yang tinggi dengan presentasi kesuksesan yang tinggi pula.
  • Pembelajaran ini berpokok pada kenaturalan dalam pembelajaran, bukan hal yang dibuat buat.
  • Dalam prakteknya pembelajaran ini berpokok pada menjaga kualitas dari suatu pembelajaran.
  • Perhatian dalam mengembangkan keahlian akademis, prestasi sangat diutamakan.
  • Pembelajaran ini sangat menghargai perbedaan dan kebebasan, bahkan kurang mengakomodasi keteraturan dan keseragaman.
  • Nilai atau apa yang dipercayai siswa merupakan hal yang utama dan sangat dipentingkan dalam aktivitas pembelajaran.

Kelemahan Quantum Learning

  • Harus tersedia pengalaman yang riil dalam pembelajaran
  • Proses pembelajaran menelan waktu yang tidak sedikit, karena siswa harus memiliki motivasi belajar terlebih dahulu.
  • Guru cenderung kurang bisa memahami dan menganalisis keahlian siswa.

 Adapun  sintaks  dari  metode quantum  learning yaitu:

  1. Penataan lingkungan belajar.
  2. Kekuatan  ambak,  dimana  siswa  berlatih  untuk  membaca  dan  melatih kekuatan memori anak.
  3. Guru memberikan semangat dan dorongan pada siswa untuk belajar.
  4. Guru menjelaskan tujuan belajar.
  5. Siswa dibagi dalam kelompok kecil.
  6. Siswa mengerjakan tugas dari guru dan berdiskusi dengan kelompok
  7. Siswa mencatat setiap kegiatan pembelajaran yang mereka alami dengan gaya belajarnya sendiri
  8. Siswa  mendemonstrasikan  pekerjaan  kelompok  masing-masing.  Di  ulangi sampai semua kelompok selesai mendemonstrasikan pekerjaan siswa.
  9. Guru memberikan reward pada siapa saja yang sudah maju di depan kelas berupa tepuk tangan dan memberikan bintang.
Hanya itu yang dapat saya review, semoga bermanfaat. Terimakasih, Wassalamualaikum.