Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarokatuh. Perkenalkan saya Sabila Eka Septi, Nim. P2A523019. Dari Magister
Pendidikan IPA. Berikut adalah 2 video tugas UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran
Sains saya dan kelompok saya yaitu kelompok 3. Video 1 mengenai Model PBL:
Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis
Praktis. Video 2 mengenai Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif,
Kuantum dan Kolaboratif. Selamat menyaksikan.
VIDEO 1 Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi
VIDEO 2 Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif
Soal No 1. Buat video singkat
aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui tutor
sebaya (siswanya dapat teman satu kelas).
Penjelasan:
Pembelajaran Era Disrupsi Inovasi
ini melatih siswa untuk memiliki kemampuan 4C (creative thingking, critical
thingking, collaboration dan communication). Salah satu model pembelajaran yang
bisa digunakan yaitu Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Model
pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa dimana
siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode
ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk
memecahkan masalah.
Langkah-langkah Model PBL:
1.
Kegiatan pembukaan
-
Guru mengucapkan salam
-
Berdo’a sebelum memulai pembelajaran
-
Guru menanyakan kabar siswa
-
Guru mengajak siswa ice breaking dan memotivasi siswa
-
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Kegiatan Inti
1.
orientasi siswa pada masalah
·
Peserta
didik membentuk kelompok.
·
Peserta
didik mengamati video terkait permasalahan
pernafasan di lingkungan masyarakat melalui link https://www.youtube.com/watch?v=miE5BKEYMZE atau melalui LCD proyektor yang disajikan guru.
·
Setelah
mengamati video, guru menstimulus peserta didik dengan memberikan pertanyaan
-
“Apakah frekuensi pernafasan setiap orang itu sama?”
-
“Bagaimanakah perbedaan frekuensi pernafasan orang yang berbadan kurus
dengan orang yang memiliki berat badan tinggi”
-
“Mengapa terjadi perbedaan frekuensi pernafasan tersebut?”
·
Peserta
didik diarahkan untuk menyebutkan alterlatif solusi sementara terkait
permasalahan yang diberikan.
2.
mengorganisasi siswa untuk belajar
·
Guru mengajak peserta didik untuk membuktikan
argument mereka dengan melakukan penyelidikan.
·
“Nah, untuk membuktikan kebenaran argument
yang telah kalian ajukan, mari buktikan
dengan melakukan penyelidikan.”
·
Peserta didik diberikan sumber literasi
belajar berupa handout/bahan bacaan
·
Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan
penyelidikan.
·
Peserta didik melakukan diskusi dalam menemukan
solusi terkait permasalahan gangguan pernafasan.
3.
membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
·
Peserta didik dipantau oleh guru dalam melakukan
percobaan dan penyelidikan.
·
Peserta didik melakukan penyelidikan dengan
percobaan untuk membuktikan argument sekaligus menganalisis besar frekuensi
pernafasan setiap orang teman .
4.
mengembangkan dan menyajikan hasil
·
Peserta didik secara berkelompok merumuskan
kesimpulan tentang besarnya frekuensi pernafasan 5 orang teman yang berbeda.
·
Peserta didik menganalisis penyebab adanya
perbedaan besarnya frekuensi bernafas setiap orang.
·
Guru membimbing peserta didik mengisi table pengamatan.
·
Peserta didik menyajikan hasil penyelidikan pada
LKPD.
5.
menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
·
Guru melakukan evaluasi kepada peserta
didik
·
Peserta didik yang mendengarkan diminta
menanggapi dan memberi komentar.
3. Kegiatan Penutup
-
Peserta didik dibimbing oleh guru merefleksi seluruh
aktivitas pembelajaran yang dilakukan dan menyimpulkan konsep yang telah
dikonstruksi oleh peserta didik berkaitan dengan frekuensi mekanisme pernafasan
manusia.
-
Guru memberikan refleksi kepada siswa berupa pemberian
pertanyaan
-
orientasi siswa pada masalah
Soal No 2. Analisis Praktis Kelemahan
Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif.
Penjelasan:
1.
Model Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah
metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan semua peserta didik melalui
kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil tersebut terdiri dari beberapa
peserta didik yang kemampuan berbeda. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa
saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang ditugaskan dan biasa
disebut sebagai pembelajaran gotong royong. Tujuan model pembelajaran
kooperatif adalah membentuk peserta didik menjadi pribadi yang lebih kuat dan
peduli pada sesama, menciptakan keaktifan serta keterlibatan semua peserta
didik dalam pembelajaran, meningkatkan nilai akademik pembelajaran melalui
kerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan kepekaan sosial peserta didik.
Beberapa kelemahan dari penerapan
model pembelajaran kooperatif antara lain:
-
membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan dan
penerapannya
-
guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang dan
membutuhkan banyak tenaga
-
membutuhkan fasilitas, alat dan bahan yang memadai
-
kesulitan membentuk kelompok yang solid
-
siswa yang lebih banyak mengobrol daripada fokus
mengerjakan tugas,
-
kurang cocok untuk siswa yang kurang aktif. Tidak semua
siswa mungkin aktif dalam kelompok, sehingga ada potensi bagi beberapa siswa
untuk "tertumpu" pada anggota kelompok yang lebih dominan.
-
kesulitan menilai siswa sebagai individu karena individu
berada dalam kelompok
-
memerlukan keterampilan khusus dalam mengelola kelompok
agar tujuan pembelajaran tercapai
2.
Model Kuantum
Model Quantum Learnig merupakan
salah satu model pmbelajaran yang dilakukan dengan lingkungan belajar yang
menyenangkan akan mampu menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar,
dan keterampilan berkomunikasi. Adapun tujuan dari pembelajaran kuantum
(quantum learning) yaitu menciptakan lingkungan belajar yang efektif,
menciptakan proses belajar yang menyenangkan, menyesuaikan kemampuan otak
dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, membantu meningkatkan keberhasilan hidup
dan karir serta membantu mempercepat dalam pembelajaran.
Beberapa kelemahan dari penerapan
model pembelajaran kuantum antara lain:
-
Memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan
lingkungan yang mendukung.
-
Memerlukan fasilitas seperti peralatan, tempat, dan
biaya yang memadai
-
Model ini dapat membuat ketidakteraturan di dalam kelas
-
Memerlukan waktu yang lama dalam pelaksanaannya
-
Kurang dapat mengontrol siswa
Pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran yang mempengaruhi
peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menuju tujuan bersama.Tujuan
model kolaboratif adalah memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama,
saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil
belajar secara kelompok maupun individu.
Beberapa kelemahan dari
penerapan model pembelajaran kuantum antara lain:
-
Memerlukan
pengelolaan waktu yang efektif agar semua siswa dapat berkontribusi secara
merata.
-
Diperlukan
pemahaman yang kuat tentang dinamika sosial dan kemampuan untuk memfasilitasi
kolaborasi antar siswa.
-
Memerlukan
infrastruktur dan jaringan teknologi informasi komunikasi yang stabil dan
efisien
-
Memerlukan
pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang
baik, maka proses kolaboratif dapat terganggu
-
Tidak
semua aspek pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sehingga perlu perhatian
khusus dalam memastikan semua aspek tercakup dengan baik
-
Ada
kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain
-
Memakan
waktu yang cukup lama
-
Sulitnya
mendapat teman yang dapat bekerja sama
-
Ada
kemungkinan peserta didik kurang aktif dalam kerja kelompok, terutama ketika
topik yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda, sehingga
dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami dengan baik
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan
kolaboratif dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum meliputi:
-
Kesiapan
dan Pelatihan Guru: Kesiapan dan pelatihan guru dalam menerapkan model-model
pembelajaran tersebut dapat memengaruhi efektivitasnya.
-
Keterbatasan
Sumberdaya: Keterbatasan sumberdaya, seperti ruang kelas dan materi
pembelajaran, dapat menjadi hambatan dalam penerapan model-model pembelajaran
tersebut.
-
Karakteristik
Siswa: Perbedaan dalam gaya belajar dan tingkat keterampilan siswa dapat
memengaruhi efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan
kolaboratif.
-
Kesulitan
dalam Pengelolaan Kelas: Pengelolaan kelompok belajar dan interaksi
antar siswa dalam model-model pembelajaran tersebut dapat menjadi tantangan
bagi guru.
-
Kurangnya Dukungan Institusional: Kurangnya dukungan
dari pihak sekolah atau institusi pendidikan juga dapat mempengaruhi
keberhasilan penerapan model-model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan
kolaboratif.
Solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi kelemahan tiga model pembelajaran yaitu Model Kooperatif, kuantum dan Kolaboratif yaitu:
-
Monitoring
Kelompok adalah Pastikan untuk secara aktif memantau dinamika kelompok. Jika ada ketidaksetaraan kontribusi,
intervensi diperlukan.
-
Pemilihan
Materi yang Tepat adalah Pastikan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat
pemahaman semua anggota kelompok, agar tidak ada yang merasa tertinggal.
-
Pengelolaan
Waktu adalah Perhatikan pengelolaan waktu dalam sesi kooperatif, kuantum, dan
kolaborasi. Pastikan kegiatan tidak terlalu lama atau terlalu singkat sehingga
menciptakan ketidaknyamanan.
-
Fasilitasi
Aktivitas Kelompok adalah Bantu kelompok dalam merencanakan dan melaksanakan
tugas mereka. Fasilitasi diskusi dan pastikan semua anggota terlibat aktif.
-
Evaluasi
Individual Selain penilaian kelompok, pertimbangkan juga penilaian individu
untuk memahami kontribusi masing-masing siswa.
-
Pelatihan
Keterampilan Sosial adalah Berikan
panduan atau pelatihan keterampilan sosial kepada siswa agar mereka dapat
berkomunikasi dan bekerja sama dengan efektif.
-
Variasi
Model Pembelajaran adalah Gabungkan model pembelajaran kooperatif dengan model
lain untuk memastikan variasi dan memenuhi kebutuhan belajar yang beragam.
-
Refleksi
dan Umpan Balik adalah Anjurkan refleksi kelompok secara berkala dan berikan
umpan balik konstruktif untuk perbaikan.
-
Keterlibatan
Orang Tua adalah Melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan pembelajaran
kooperatif, kuantum dan kolaborasi dapat membantu mendukung keberhasilan siswa.
Semoga
bermanfaat, terimakasih. Wassalamu'alaikum.
Nama Kelompok 3:
1. Elda Meitafia (P2A523002)
2. Puji Rizky Widyaningsih (P2A523007)
3. Laila Fitria (P2A523015)
4. Sabila Eka Septi (P2A523019)
5. Istiqomah (P2A523027)
Dosen Pengampu:
Dr. Drs.
Syamsurizal, M.Si.
Mata Kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains
Program Studi Magister
Pendidikan IPA
Universitas Jambi
2023
.jpg)
